Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Agustus tahun 2024, sekitar 8,76 juta jiwa atau 5,87% dari angkatan kerja merupakan Tenaga Kerja Konstruksi (TKK). Namun, hanya 426.071 orang atau 4,86% dari TKK yang sudah bersertifikat. Angka ini menunjukkan bahwa tenaga kerja yang sadar atas kewajiban kompetensi di Indonesia masih di bawah 10% dari total TKK.

Padahal, kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkim yang terampil mendesak dipenuhi di berbagai daerah, karena ketidakmampuan teknis berdampak langsung pada kualitas konstruksi, pemborosan material, serta risiko kegagalan bangunan dan infrastruktur permukiman. Kondisi ini terjadi karena sistem rekrutmen TKK masih mengandalkan pengalaman tanpa pelatihan formal yang terstruktur, ditambah minimnya wadah pelatihan yang mudah diakses masyarakat.

Padahal, sertifikasi kompetensi kerja di dunia konstruksi sangat penting karena memberikan berbagai manfaat bagi pekerja, perusahaan, maupun industri konstruksi secara keseluruhan. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan solusi yang tidak hanya bersifat teoritis tetapi sudah terbukti di lapangan.

Salah satu bentuk solusi peningkatan kapasitas SDM Perkim yang mulai menunjukkan hasil adalah hadirnya inisiatif pelatihan berbasis komunitas dan praktis. Sejak tahun 2007 pasca gempa Yogyakarta, telah berkembang model pembelajaran yang tidak mengacu pada institusi formal, melainkan pada pendampingan langsung di lapangan.

Sekolah Perkim Caritra Indonesia adalah salah satu contoh nyata dari model ini. Berfokus pada aspek layak huni dan kekhasan lokal, bukan sekadar konstruksi fisik, sekolah ini menyediakan pelatihan gratis dan fleksibel secara daring maupun luring bagi pejabat, konsultan, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Mengatasi permasalahan SDM Perkim tidak selalu membutuhkan kebijakan besar atau anggaran fantastis. Justru penguatan dan replikasi dari model-model bimtek yang sudah terbukti berjalan, seperti yang dilakukan Sekolah Perkim Caritra Indonesia, dapat menjadi langkah konkret. Ketika setiap proyek perkim mulai mengintegrasikan komponen pelatihan praktis bersertifikat secara terstruktur, maka target nasional tidak hanya memenuhi kuantitas hunian, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan saat ini bukanlah wacana baru, melainkan kemauan kolektif untuk menjadikan pelatihan sebagai kebutuhan yang wajib dipenuhi dan bukan sekadar pelengkap di atas kertas.

 

Penulis: Hariestya Zaki Akmal Aulia, Fasiha Putri Untsa

Editor: Mahditia Paramita

 

 

Sumber:

https://binakonstruksi.pu.go.id/publikasi/karya-tulis/masihkah-sertifikasi-kompetensi-kerja-konstruksi-dianggap-sebelah-mata/

https://sekolah.perkim.id/

https://semenmerahputih.com/id/berita/konstruksi/pekerja-proyek-konstruksi